Joko dan Jendela

Joko dan Jendela

Namaku Joko. Hanya Joko. Begitulah namaku yang tercetak di rapotku setiap semester. Hanya 1 kata, 4 huruf: JOKO. Di akte kelahiranku juga demikian, nama Joko itu saja yang bertengger di kolom nama. Tapi aku bangga menjadi Joko. Sebangga Bonek terhadap Persebaya. Mungkin juga kalau aku sudah cukup sukses nanti aku akan membuat talk show dengan nama ‘Just Joko’. Nama itu tidak pernah menjadi masalah bagiku. Orang-orang di tempat asalku mengenalku sebagai Joko yang sangat lincah dan senang mengamati lingkungan sekitarku. Saat aku harus pindah ke kota Surabaya, aku menjadapat julukan Joko ‘si anti rokok’ karena aku tidak punya nama panjang, dan karena aku tidak suka merokok. Tapi tidak ada yang pernah mempermasalahkan betapa singkat dan sederhananya namaku.

Masalah terhadap namaku si Joko mulai muncul ketika aku bekerja. Ketika nama-nama aneh mulai bertebaran. Nama seperti Elionora, Britney, Jackson, Ruben, dan masih banyak lagi. Mereka tampak mengernyit ketika aku menyebut namaku. Seakan ada yang salah dengan nama tersebut. Bahkan seorang rekan kerja wanita pernah mengejek namaku. Saat aku memperkenalkan diriku sebagai Joko, dia balik memperkenalkan namanya sebagai Juminten. Aku sempat melongo. Tidak menyangka masih ada orang kota trendi yang bernama Juminten. Tapi 2 detik kemudian ia menyembur tawa. Sambil meminta maaf dan mengkoreksi namanya menjadi Jennifer, ia bilang No hard feeling, okay? It’s just a joke.’ Aku hanya bisa tersenyum masam lalu segera meninggalkannya yang tampak masih sulit untuk menahan tawa.

Bagaimanapun, aku merasa sedikit terhina dengan perlakuan seperti itu. Di kota asalku, jelas tidak akan ada yang mengernyit ketika namaku disebut, dan aku akan lebih dihargai di sana. Aku berasal dari Desa Pulorejo di Kabupaten Jombang. Ketika lulus sekolah menengah atas, aku memenangkan karya tulis ilmiah yang kemudian mengantarku mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi di Surabaya. Saat itu seluruh tetanggaku merasa kemenanganku itu seperti keajaiban. Hampir tidak ada yang menyangka bahwa salah satu putra desa mereka akan menuntut ilmu dengan gratis di Kota Surabaya. Tapi memang kadang keajaiban itu terjadi. Keajaiban yang mengubah hidupku. Jika aku tidak memenangkan karya tulis tersebut, mungkin aku sekarang menjadi karyawan bengkel tetanggaku yang terletak di seberang rumahku di desa dan setiap malam akan nongkong dengan teman-temanku di warung kopi Bu Dar. Tapi di kota ini, hampir setiap malam aku masih berkutat dengan pekerjaanku.

Meski aku tidak begitu suka dengan lingkungan sosial tempatku bekerja, aku mengakui cukup betah tinggal di kota ini. Bahkan sudah jatuh cinta pada salah satu tempat di sini. Tempat itu adalah toko kue di salah satu pusat perbelanjaan paling ramai di Surabaya. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa pada tempat tersebut, kecuali jendelanya. Memang hanya jendela kaca biasa khas tempat nongkrong di mal yang memiliki akses pemandangan ke jalan. Tetapi seluruh pinggir jendela kaca tersebut diberi garis warna putih yang cukup tebal. Garis yang simpel tapi memberi efek yang sangat berbeda terhadap pemandangan yang disajikan. Seperti bingkai yang menampilkan pemandangan di luar layaknya menampilkan sebuah lukisan bergerak tentang jalan kota Surabaya yang terbentang di baliknya dan tempat para pengujung keluar masuk melalui pintu samping mall. Walau bukan pintu utama, tapi tetap saja pintu itu cukup sering terbuka dan tertutup dimana para pengunjung berlalu lalang melewatinya.

Pertama kali mengunjungi toko kue tersebut dan duduk menikmati jualan mereka di  sudut ruangan, aku langsung memutuskan akan menjadi pengunjung setia begitu melihat sebuah jendela berwana putih juga dengan kusen putih. Jendela itu menjadi salah satu daya tarik terbesar toko ini karena memamerkan pemandangan yang dekat dengan pintu masuk mall, tempat para pengunjung berlalu lalang. Dan akhirnya di sanalah aku hampir selalu terlihat menghabiskan waktuku bila tidak sedang sibuk bekerja. Bahkan terkadang aku membawa pekerjaanku yang harus kubawa pulang dan menyelesaikannya di tempat ini.

Lokasi mal tidak begitu jauh dari tempatku bekerja sehingga bila penat datang dan waktu menunjukkan saat istirahat, aku segera melarikan diri ke toko kue tersebut dan menikmati jendelanya. Tidak heran bila aku akhirnya menjadi dekat dengan para pegawai yang bekerja di sana. Mereka mengatakan merasa cukup aneh ketika aku hampir seminggu tidak terlihat di tempatku biasa duduk karena harus pergi ke luar kota untuk pekerjaan. Bahkan mereka menyebut meja dan kursi tempatku biasa duduk sebagai ‘Pojok Joko’. Sebutan yang penuh apresisasi atas eksistensi dan namaku itu membuatku merasa terharu, seperti menemukan keluarga baru di kota ini. Memang terkadang aku menjadi bosan dengan suguhan yang dijual, tapi sayangnya aku tidak pernah cukup bosan dengan si jendela sehingga aku tetap datang dengan setia. Lagipula harga menikmati sepotong kue dengan segelas minuman di sana tidak terlalu menguras kantong seperti di toko kopi yang terletak di sisi lain dari pintu masuk mal.

Secara keseluruhan, setelah beberapa tahun menjadi pengunjung setia toko kue ini, aku mencatat ada begitu banyak kisah menarik yang tidak bisa kuingat lagi berapa jumlah pastinya. Semuanya ditayangkan oleh jendela. Kisah khas perkotaan. Memang hidup di kota itu berat, kejam, sekaligus menarik. Dan aku sangat senang bisa menjadi pengamat. Sambil menonton, biasanya aku juga mengarang percakapan dalam kepalaku sendiri, mengira-ngira apa yang diucapkan oleh para tokoh yang ditampilkan melalui jendela.

Kisah yang cukup menarik yang pernah tampil adalah ketika seorang gadis bertengkar dengan pasangannya. Menurut pendapatku, tidak ada yang tidak menikmati konflik cinta sepanjang bukan mereka yang mengalaminya. Lihat saja, saat kejadian itu berlangsung, semua mata pengunjung di sekitar dengan penuh minat langsung tertuju ke arah mereka. Si gadis keluar dari pintu masuk mall dengan terburu-buru. Di belakangnya, si pemuda terbirit-birit mengejarnya. Ia segera meraih lengan si gadis dan yang langsung ditepis mentah-mentah.

Lepaskan,’ sebuah suara dalam imajinasiku mulai bermain membentuk percakapan di antara mereka.

Tunggu dulu, Mitha,’ aku bahkan memberi nama imajinasi pada sang tokoh.

Si gadis berhenti dan pandangannya yang tadinya tampak sangat marah mulai melunak dan kemudian jadi tampak seperti mau menangis. Sayang si pemuda berdiri membelakangi pandanganku sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi pemuda tersebut saat melihat pasangannya hendak menangis. Tapi rupanya si gadis tidak memberi kesempatan pada si pemuda untuk menghiburnya. Ia segera melepaskan diri dari tangan si pemuda yang mencoba untuk menahannya dan langsung melesat menyerobot antrian taksi, membanting pintu mobil di hadapan si pemuda dan sedan tersebut segera melaju. Para pengunjung yang sudah mengantri taksi tampak tidak keberatan karena mereka sudah mendapat pertunjukan menarik.

Tak lama kemudian, dari balik pintu masuk muncul gadis lain yang segera menghampiri si pemuda. Gadis itu mencoba meraih tangan si pemuda, tapi dengan enggan si pemuda melepaskannya. Para pengunjung mulai berbisik-bisik. Mereka pasti juga sedang menerka-nerka cerita versi mereka masing-masing. Yang jelas ini pasti cinta segitiga atau perselingkuhan. Di perkotaan, hal perselingkuhan ini sering terjadi. Aku tidak tahu bagaimana dengan rekan kerja wanita, tapi banyak rekan kerjaku sesama laki-laki membicarakan gonta-ganti cinta dan pasangan seremeh mereka membicarakan cuaca yang kerap berubah-ubah.

Namun, meski dibicarakan dengan remeh, mereka semua berusaha keras menyembunyikan kenyataan bahwa mereka mendua. Berpura-pura sebagai pasangan sempurna. Akan sangat runyam bila kebobrokan mereka ketahuan. Serunyam muka si pemuda tadi. Sambil memegangi kepalanya, ia memutar badannya sehingga sekarang aku bisa melihat wajahnya yang seakan baru menenggak obat pahit. Sedangkan gadis yang menyusulnya tadi sekarang hanya tertunduk diam.

Pada kesempatan lain, aku melihat seorang bule berumur dengan gadis lokal yang tampak lebih cocok menjadi anaknya. Tapi bagaimana cara si bule menaruh tangannya melingkari pinggang si gadis jelas menunjukkan bahwa hubungan mereka bukanlah ayah dan anak, melainkan sepasang kekasih. Mereka sedang bercakap-cakap sambil menunggu antrian taksi.

The weather is good tonight. Let’s go dancing!’ aku mendengar suara perempuan dalam kepalaku ketika melihat si gadis tertawa cerah.

No, I have a better idea. Why don’t we go to my place and cook together? You like my cooking, don’t you?’ sebuah suara bariton orang asing dengan nada menggoda turut bergema dalam kepalaku saat aku melihat tangan si bule naik dari pinggang menuju bahu gadis itu dan meremasnya.

Yah, mungkin tidak persis seperti itu percakapan mereka , tapi kurang lebih sama lah. Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya mengingat pria yang bersama gadis itu berasal dari belahan dunia yang menganut kebebasan sebebas-bebasnya, termasuk seks sebelum menikah. Rasanya paham itu sudah seperti penyakit yang berjangkit di masyarakat, terutama masyarakat kota yang semakin terbuka terhadap aliran liberalisme dan kapitalisme juga materialisme dan hedonisme. Dan tidak ada yang mau repot-repot mengobatinya.

Aku teringat bagaimana eyang putriku dulu mengajariku tata krama dan adat timur yang mementingkan kesucian sebelum menikah, sehingga aku tidak pernah mengajak pacarku saat kuliah dulu berbuat yang macam-macam.

Selain masalah percintaan, aku juga menyaksikan bagaimana masalah lingkungan dan sosial juga menjadi menu sehari-hari dalam kehidupan masyarakat kota.

Pernah ada 5 wanita muda modis nan heboh yang tampak habis berbelanja habis-habisan. Mereka menenteng kantung-kantung belanjaan yang dapat membuat pemerhati lingkungan berteriak-teriak memprotes karena begitu banyak kantung yang mereka gunakan. Minimal 3 kantung di tangan kanan-kiri mereka masing-masing dalam berbagai ukuran dan jenis, ada yang dari kertas, karton, maupun plastik. Kebetulan yang menarik sekali bahwa di samping mereka, ada 3 wanita muda lain yang berpenampilan lebih sederhana. Kuperhatikan bahwa 3 wanita sederhana tadi sangat berkebalikan, mereka membawa tas belanjaan sendiri yang masing-masing bertuliskan ‘Save The Earth!’, ‘GO GREEN’, dan ‘I’m not a Plastic Bag’. Jelas pemandangan yang sangat kontras: 5 wanita dengan  tumpukan kantung belanja berdiri di samping 3 wanita dengan tas belanjaan yang mereka bawa sendiri, lengkap dengan pesan cinta lingkungan mereka. Jelas mereka tidak menyukai kantung belanjaan yang difoya-foyakan seperti itu. Mereka melempar tatapan penuh permusuhan. Menyadari sedang diperhatikan, dua orang dari penggila kantung belanja tersebut mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Kemudian mereka berdua mengeluarkan asap dari hidung dan mulut mereka dan tampak dengan sengaja diarahkan pada ketiga wanita pecinta lingkungan tadi.

Para pengunjung yang sedang berada di antrian taksi dan yang menunggu kendaraan juga tampak tidak senang dengan aksi si perokok tadi. Aku lihat mereka mulai berbisik-bisik sambil memandangi gerombolan wanita kantung belanja. Dan dalam imajinasi terliarku, aku berharap kedua gerombolan wanita tersebut sudah ambil ancang-ancang untuk saling cakar. Tapi tentu saja itu tidak terjadi. Mereka adalah wanita kota yang berpendidikan dan santun. Walau aku tahu dalam lubuk hati terdalam masing-masing, mereka ingin menerjang satu sama lain kalau bisa. Tapi insting barbar tersebut kalah dengan image wanita sepolos bulu domba yang hendak mereka tampilkan. Menurutku wanita bisa menjadi sangat barbar kalau mereka mau. Dan pertarungan antara wanita jelas tidak kalah menarik dari pertandingan Liga Inggris.

Bila perkelahian itu sampai terjadi, aku akan mendukung para wanita pecinta lingkungan tadi. Keberadaan mereka di kota harus disyukuri karena merekalah pahlawan lingkungan tanpa tanda jasa. Mengingat gaya hidup perkotaan, jelas lingkungan sudah menjadi korban sehingga terancam tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Lebih banyak yang tidak peduli dengan lingkungan sepanjang mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Selain itu, aku merasa sangat tidak senang pada wanita yang merokok. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa di kuliah aku dipanggil Joko – si  anti rokok. Hal itu karena aku terang-terangan tidak menyukai asap rokok. Sudah bukan rahasia lagi apa bahaya rokok. Semua teman kuliahku heran karena aku tidak bisa menikmati rokok. Tapi aku yang lebih heran karena mereka bisa menikmati racun. Dan aku sangat membenci perokok yang tidak menghargai hak orang lain untuk mendapatkan udara bebas, seperti wanita perokok tadi yang dengan sengaja menghembuskan asap rokok ke orang lain. Kami yang tidak merokok ini sudah susah payah menjaga kebersihan paru-paru kami, jelas tidak sudi membiarkan orang lain yang mengotorinya. Belakangan aku melihat semakin banyak wanita yang merokok di perkotaan. Entah mengapa tapi rasanya para wanita barbar berbulu domba ini menganggap bahwa hal merokok sudah menjadi tuntutan gaya hidup di kota. Di toko kopi seberang, aku banyak melihat wanita yang merokok. Hampir separuh rekan kerjaku yang wanita juga adalah perokok. Malah ada yang menjadikan rokok sebagai bagian dari gaya berbusana mereka. “Tanpa rokok di tangan, sama saja seperti tidak memakai sepatu,” ucap mereka. Aih.

Dari jendelaku, aku juga pernah melihat para pria yang menyelesaikan masalah hampir dengan baku hantam. Ketika itu, ada taksi yang melaju melewati lintasan yang sedikit menanjak menuju tempat antrian para penumpang menunggu taksi. Sayangnya taksi tersebut melintas terlalu cepat sehingga menyenggol bemper mobil di depannya. Cuaca hari itu memang sangat panas, dan rasanya sudah memanaskan hati setiap penghuni yang berada di bawah langit Surabaya yang luar biasa terik. Naas betul nasib si supir taksi karena mobil yang ditabraknya itu termasuk mobil mewah buatan terbaru dari Eropa. Beberapa detik kemudian, pengemudi mobil itu – seorang supir pribadi yang berseragam rapi, langsung keluar dari mobil dan menyerang taksi yang barusan menabraknya. Ia membanting tangannya dengan kasar di kaca depan taksi dan membentak galak menyuruh si pengemudi taksi keluar dari mobil. Si supir taksi tampak menciut ketakutan. Dua satpam yang bertugas di tempat itu tampak mulai siaga, siap menetralisir bila terjadi baku hantam. Para pengunjung juga bersiaga, siap mendapat pertunjukan menarik: baku hantam di siang bolong.

Cari mati ya?!’ imajinasiku kembali bekerja memperdengarkan suara kasar dalam kepalaku. Mungkin itulah yang diucapkan si supir pribadi terhadap si supir taksi. Ia bahkan mencengkeram kerah baju si supir taksi.

Ampun pak.. ampun. Saya ngga sengaja,’balas si supir taksi yang terdengar ketakutan dalam benakku. Air mukanya tampak pucat.

Kedua satpam tadi langsung menghampiri si supir pribadi yang tampak ingin membantai si supir taksi.

Sabar pak. Ayo kita selesaikan dengan jalan kekeluargaan. Jangan membuat keributan disini. Ayo menepi dulu,’ Begitulah bunyi salah seorang satpam di kepalaku saat ia berusaha mendinginkan suasana di antara kedua supir itu.

Beruntunglah saat itu bulan puasa sehingga si supir pribadi menerima bujukan sang satpam. Ia melonggarkan cengkeramannya dan menurunkan tangannya. Kemudian mereka masing-masing kembali masuk ke dalam mobil dan menepikannya sehingga tidak menghalangi mobil lain yang mau lewat. Tapi tetap saja saat keluar dari mobilnya lagi, muka si supir pribadi masih tampak galak. Ia kemudian mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya dan kemudian melakukan panggilan. Kemungkinan besar ia menelepon majikannya. Benar saja, tak lama kemudian, seorang pria yang kira-kira berusia awal 30-an dan bertubuh tegap keluar dan menghampiri mobil mewah yang pantatnya baru ditabrak tadi. Wajahnya cukup tampan sehingga wajar banyak pengunjung wanita yang berada di sana menolehkan kepala mereka untuk melihatnya. Entah karena paras si majikan yang enak dilihat, atau karena mereka penasaran menanti kelanjutan kisah ketidakberuntungan seorang supir taksi hari itu. Raut muka si majikan tampak tidak suka ketika ia memeriksa bemper belakang mobilnya yang baru kena cium.

Ini akan memakan biaya besar,’ begitu mungkin yang diucapkannya. Yang jelas, ia meminta kartu identitas si supir taksi. Tampaklah si supir taksi makin lemas. Dosa apa dia semalam sehingga harus menabrak mobil mewah keesokan harinya. Tak lama kemudian, kerumunan kecil itu pun bubar. Sang majikan masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya di siang bolong itu dalam hembusan angin segar di mobil mewah, sementara si supir taksi tampak gontai. Kedua satpam tersebut tampaknya bersimpati, mereka menepuk-nepuk bahu si supir taksi, berusaha memberi semangat.

Ini tidak adil, pikirku. Apakah si kaya tadi tidak dapat berpikir jelas atau pura-pura tidak tahu berapa penghasilan seorang supir taksi di kota ini? Aku juga tidak tahu pasti, tapi yang jelas jauh lebih sedikit daripada si kaya tadi yang sanggup menaiki mobil mewah. Belum lagi si supir taksi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada perusahaan taksi. Terang saja yang kaya tambah kaya, dan yang miskin tambah miskin. Tidak ada toleransi bila melakukan kesalahan. Intinya, yang miskin harus hidup tidak bercela. Tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun, bahkan tidak boleh sakit. Sakit pun juga mahal harganya di kota. Sungguh menyedihkan keadaan ini, pikirku.

Yang jauh lebih menyedihkan lagi adalah ketika ada seorang ibu tua yang tampak lusuh dan kucel duduk di tangga yang menuju pintu masuk mall. Ini merupakan kisah yang paling berharga bagiku dari sekian banyak kisah yang kusaksikan dari jendelaku. Saat itu, selain si ibu tua, banyak pengunjung juga yang duduk di tangga menanti jemputan. Di antara mereka yang duduk di tangga, kuperhatikan si ibu tua tampak tidak berdaya menatap sekitarnya dan duduk menyendiri di pojok di anak tangga terbawah. Para pengunjung yang keluar masuk tampak sengaja pura-pura tidak melihat walaupun aku bisa melihat kebanyakan dari mereka mencuri pandang sekilas ke arah si ibu tua. Mungkin mereka heran apa yang dilakukannya di situ. Ada salah satu pengunjung yang tampaknya membicarakan keberadaan si ibu tua yang tampak kotor Tanpa malu-malu ia mengarahkan telunjuknya menuding si ibu tua. Tapi si ibu tidak peduli. Kira-kira sudah 10 menit ia duduk disana ketika ada seorang bocah laki-laki dan perempuan yang juga berpakaian lusuh menghampirinya. Mereka berdua menyerahkan segenggam koin kepada si ibu tua, mungkin hasil mereka meminta-minta dari tadi pagi, kemudian tampak merengek-rengek. Aku bisa membaca gerakan bibirnya saat merengek karena kedua bocah tersebut mengulang-ulang kata yang sama. Rupanya kedua bocah itu menginginkan es krim. Si ibu tua kemudian mengeluarkan setumpuk uang lusuh dari kantung bajunya. Lembaran demi lembaran uang dihitungnya. Rasanya uangnya tidak cukup untuk memenuhi keinginan bocah-bocahnya sehingga ia menggelengkan kepala dengan sedih.

Lain kali ya nak,’ mungkin begitulah bujukan si ibu tua pada 2 bocah kecil. Ia mengelus-elus rambut keduanya. Tapi rupanya mereka tidak mau menunggu lagi. Mereka mulai menjerit kesal karena tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan. Para pengunjung yang berada di sekitar tempat itu yang tadinya tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari keberadaan si ibu tua mulai menoleh ke arah mereka. Si ibu tua mulai panik. Ia berusaha keras membujuk kedua bocah yang mulai menjerit tadi, tapi mereka itu malah tambah keras menjerit dan akhirnya menangis. Tak lama kedua satpam tadi bergerak maju lagi, mendekati si ibu tua.

Ketika tangan mereka mengarah ke jalanan, aku langsung tahu bahwa mereka mengusir si ibu tua dengan kedua bocahnya itu ke jalanan. Aku terhenyak. Banyak pemandangan anak kecil yang rewel dan menangis di luar pintu masuk itu. Tapi apakah mereka diusir? Tidak. Mereka tidak diusir. Lantas apa yang membuat si ibu tua dengan kedua bocahnya diusir? Mereka juga tadinya hendak masuk untuk membeli es krim. Hanya sayang uang mereka tidak cukup. Atau karena penampilan mereka yang lusuh? Sungguh dangkal sekali para warga kota ini kalau begitu, pikirku. Mereka bertiga butuh keajaiban hari ini.

Aku langsung bangkit berdiri, mengatakan pada pegawai toko bahwa aku hanya keluar sebentar dan akan kembali lagi. Karena sudah menjadi pengunjung tetap, rasanya mereka tidak mempermasalahkannya. Tanpa berpikir lagi, aku berlari keluar mengejar si ibu tua dan bocah-bocahnya. Mereka masih belum jauh. Saat aku berteriak memanggil ‘Ibu’, mungkin si ibu tua tidak menyadari bahwa merekalah yang kupanggil. Ia tampak kaget sekaligus ketakutan ketika aku berhasil menyusul dan meminta mereka untuk berhenti sebentar. Ketika aku mengatakan apa keinginanku, si ibu tua tampak gemetar menahan tangis. Aku, si Joko yang jarang menangis ini, merasa ikut tergetar saat melihatnya menangis. Kemudian aku berpaling ke arah dua bocah tadi yang masih beringus hidungnya, dan mengatakan bahwa mereka akan makan es krim hari ini. Binar langsung menghiasi wajah keduanya dan mereka sungguh tampak seperti malaikat kecil yang polos dan tidak menginginkan apa pun selain es krim. Aku kemudian menggandeng erat tangan keduanya, dan berjalan perlahan agar si ibu tua dapat mengikuti langkahku.

Ketika kami sampai di depan tangga pintu masuk mall, kedua satpam tadi terlihat heran. Bisa kurasakan pandangan mereka mengikuti langkahku bersama ketiga teman baruku ketika kami menaiki tangga dan masuk ke dalam mall. Kedua bocah di samping kanan kiriku tertawa girang dan bergelanyut mempererat gandengan mereka pada tanganku. Setelah kedua bocah tadi kenyang dengan es krim dan menyangoni si ibu dengan sejumlah rupiah, baru aku kembali ke ‘Pojok Joko’. Beberapa pegawai di sana memberiku sentuhan hangat di bahu dan di punggung. Mungkin mereka melihat apa yang aku lakukan barusan. Aku tersenyum, tidak merasa bangga telah melakukan sesuatu yang mungkin dinilai orang sebagai tindakan ‘sok pahlawan’. Aku hanya merasa bersyukur karena mampu melakukan apa yang menurut hati dan pikiranku sebaiknya aku lakukan tanpa mempedulikan penilaian orang lain.

Keberadaan jendela ini telah mengajariku banyak hal melalui setiap peristiwa yang terjadi di baliknya. Hal paling pokok yang aku pelajari adalah kehidupan di kota memang gila, berat, lagi kejam. Seperti peristiwa si ibu tua, aku yakin sebenarnya banyak yang merasa kasihan dengannya, dan mungkin ada yang ingin menolongnya juga. Tapi mengingat ini adalah kehidupan kota, mungkin mereka juga mempertimbangkan bagaimana bila nanti kedua bocah tadi meminta lebih banyak. Atau mungkin mereka sebenarnya bagian komplotan organisasi pengemis yang sedang bersandiwara. Atau mungkin malah anggota kelompok kriminal. Daripada melakukan sesuatu yang ternyata nanti disesali, atau dinilai orang lain sebagai sok pahlawan, akhirnya banyak yang merasa lebih baik bersikap tidak peduli. Terlihat kejam karena begitulah kehidupan di kota, kejam adanya. Ikut bertindak gila demi mengikuti kegilaan kota. Dan banyak yang menganggap perlu bersikap seperti itu agar bisa bertahan hidup. Sayang sekali. Para manusia di kota harus saling membunuh karakter sendiri demi tujuan bertahan hidup. Penduduk kota, pribadi kota.

Memang tidak ada yang mengajari bagaimana harus bertahan hidup di kota besar. Tapi dengan jendala ini, aku mendapat banyak hikmat dari setiap detik yang terjadi. Memang agak ironis. Aku anak desa, tapi justru  di dekat pintu masuk salah satu pusat perbelanjaan paling ramai di Surabaya itu lah, aku belajar paling banyak untuk menjalani hidup terbaik menurut hati nurani.

-The End-

* Kisah ini terinspirasi dari pengalaman saya saat berdiri menunggu dijemput di dekat pintu masuk salah satu mall di Surabaya. Saat itu saya dari luar bisa mengamati perilaku para pengunjung coffee shop yang ada di dekat pintu masuk. Bila dibalik, mungkin akan menjadi kisah yang menarik. Seseorang dari balik sebuah toko mengamati tingkah para pengunjung yang ada di luar, di dekat pintu masuk. Dari situlah, lahir cerita ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Posts

About Me

Hi, I'm Ignatia Karina

Known as Karina in daily life and Dr. Igna in my pediatric practice—where I combine my passion for writing with my journey as a pediatrician.

Favourite PICKS

  • All Posts
  • Cerita Medis
  • Favourite Stories
  • Kisah Personal
  • Lainnya
    •   Back
    • ASI/ MPASI/ Nutrisi
    • Vaksinasi
    • Infeksi
    • Emergensi
    • Lain-lain
    •   Back
    • Refleksi
    • Parenting
    • Puisi
    • Fiksi

Persepsi dari referensi yang pasti,

itulah Edukasi.

Categories

Edit Template

© 2025 Ignatia Karina. All right reserved.