Letters of Mika

Letters of Mika

“If ever, hadn’t been impure like this

We would’ve fallen in love without changing my real self

Why does time separate people?

Please, be by my side at least for now

Because you are here, I become stronger

You will realize even the smallest dreams

You are the one who will see my feelings”.

Surat itu tergeletak begitu saja di atas meja di ruang kesenian yang berantakan. Entah siapa yang meletakannya disana. Sebagai anggota baru klub kesenian yang baru pertama kali juga menginjak ruang kesenian, Mika merasa ada sesuatu dalam surat itu yang mengganggunya.

“Maksud lu? Lu ngerasa surat itu bakal menghubungkan lu sama sesuatu tu maksudnya apa, Ka?” tanya Nirin, sahabatnya sejak kecil. Mereka berdua lengket seperti anak kembar, susah dipisahkan walau mereka berbeda sekolah.

“Iya Rin, mungkin bukan suatu kebetulan aku nemuin surat itu. Isinya menghipnotis banget. Ada sesuatu yang menurut feeling aku menunggu aku.”

“Hah? Lu komat-kamit apa sih, Ka? Gua ngga ngerti nih.”

“Pokoknya Rin, aku ngerasa aku harus membalas surat itu. Supaya aku ngga melewatkan sesuatu yang penting.”

“Memangnya lu ngelewatin apaan? Lu tau siapa yang nulis sama siapa yang ninggalin surat itu?”

Mika menggeleng.

“Aih, yah mungkin sesuatu sedang menunggu lu, Mik..” Nirin menghela nafas. Sahabatnya yang melankolis satu ini memang sering merasakan sesuatu melalui feeling-nya yang sangat peka. Entah itu kemampuan super natural atau bukan.

Kali ini Mika harap-harap cemas mendatangi ruang kesenian. Sudah 1 bulan berselang sejak pertama kali ia menemukan surat yang mirip surat cinta tapi tidak ada identitas pengirim maupun penerimanya.Seolah-olah surat itu menunggu untuk ditemukan oleh dirinya. Mika sudah membalas surat itu singkat tapi tegas. Berisikan permohonan maaf karena telah membaca surat itu, dan menanyakan untuk siapa sebenarnya surat itu.

Kali ini ruangan tidak kosong seperti saat pertama kali ia datang ke tempat itu. Ketua klub kesenian sedang berada di dalam. Tamara, anak kelas 3 SMA, yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah dan klub tersebut. Mika sempat tertegun saat melihatnya, melihat Tamara tersenyum padanya.

Tamara, ia gadis yang misterius tapi jenius – terutama dalam melukis. Di usia yang begitu muda, karya lukisannya sudah memiliki reputasi internasional, bahkan sudah mengikuti pameran lukisan di belahan bumi Eropa. Namun, tidak ada yang pernah melihat ia melukis. Ia juga tidak pernah memberitahu di mana dan kapan ia melukis.

Baru kali ini Mika bertemu dengannya hanya mereka berdua saja. Dengan gelagapan, ia berusaha memberi hormat pada ketuanya. “Selamat pagi, kak Tamara.”

Sang ketua yang disapa hanya membalas dengan senyum. Ia membereskan tasnya dan kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan. Seketika Mika menjadi ciut menyadari bahwa salamnya hanya dibalas seulas senyum.

Ruang kesenian sepi, tapi berantakan seperti biasa. Tak peduli bagaimanapun para anggota baru bergantian berusaha membersihkan ruangan kesenian, dalam hitungan hari, ruang tersebut akan kembali berantakan seperti sedia kala. Padahal klub kesenian memiliki anggota paling sedikit dibanding klub lain, bahkan dibanding klub sastra.

Surat yang dulu ia temukan sudah tidak ada di meja. Padahal seingatnya minggu lalu surat itu masih ada. Mungkin kini sudah dibuang. Berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, Mika kembali menekuni tugasnya untuk membersihkan ruangan kesenian. Dibukanya pintu lemari dalam ruangan tersebut, ingin mengembalikan beberapa karton yang masih bisa dipakai. Tiba-tiba kepalanya terantuk sesuatu, yang kemudian melayang ringan jatuh ke lantai. Secarik kertas yang dilipat seperti surat. Dada Mika kembali bergetar saat memungut dan membacanya.

“No matter who you are, I will keep waiting.

Many of us will live, but few will love.

But I will just be waiting. For you to come.

To you whom I know.”

“Menurut lu ini surat cinta atau bukan, Mik?” tanya Nirin melihat sahabatnya termenung memandangi surat itu. “Bisa jadi, Rin,” Mika membalas tanpa mengalihkan pandangannya dari surat yang dibawanya.

“Dari Kak Tamara? Buat lu?”

“Ngaco!”Mika langsung melempar bantal.

Mika datang lagi 2 hari berikutnya, membawa surat balasan yang telah ditulisnya rapi. Kali ini ia menanyakan maksud dari dua surat sebelumnya. Walaupun fasih menggunakan bahasa inggris, ia masih abstrak dengan isi dari dua surat yang ia temukan. Kali ini ruang kesenian diisi Tamara bersama Robby, wakil ketua klub. Robby sedang riuh mengutarakan idenya untuk mengikuti lomba kesenian di Solo, sementara sang ketua hanya diam mendengarkan, sesekali tersenyum.

Robby yang pertama kali melihat kedatangan Mika langsung berdiri menghampirinya. “Anak ini, gua perhatikan dari kemarin, paling rajin membersihkan ruang kesenian kita.” Suaranya yang dalam membuat Mika sedikit bergetar. Laki-laki itu tidak menjabat tangannya, tapi menepuk punggungnya hangat.

“Ada sesuatu di ruangan ini yang membuat lo tertarik, Mika?’ tanya Robby, suaranya santai meski tatapannya tajam.

“Eh, tidak.” Mika menemukan dirinya tergagap dan tidak mengetahui apa yang harus dikatakan. Ia terdiam tapi sejenak kemudian  mengeluarkan buku tulisnya.

“Maaf mengganggu, kami para anggota baru punya kebijaksanaan baru untuk meminta data dari kakak-kakak senior. Untuk perkenalan saja. Kalau tidak keberatan, Kak Tamara dan Kak Robby silakan mengisi di buku saya,” Mika tersenyum sesimpul mungkin sambil menyerahkan bukunya. Kemudian ia segera pamit pergi ketika keduanya selesai dan bukunya kembali ke tangannya. Mika dapat merasakan kedua seniornya terus menatapi punggungnya sampai ia menutup pintu.

“Dia cerdas,” komentar Tamara pendek. Robby tersenyum.

“Jadi, mirip sama tulisannya Robby?” tanya Nirin sambil mengintip dari bahu Mika. Sahabatnya itu sedang membandingkan tulisan dari kedua surat yang disimpannya dengan tulisan dari kedua senior yang berhasil ia minta tadi.

“Ga tau deh. Aku juga bukan detektif, cuma bisa nebak. Kurang lebih mirip tulisan Kak Robby, tapi belum tentu kan dia. Anggota klub kesenian ada 10 orang, termasuk aku. Berarti masih ada kemungkinan 7 orang selain Kak Tamara dan Kak Robby. Malah bisa jadi bukan orang klub kesenian.”

Nirin menatap serius sahabatnya.

“Mika, lu kenapa bisa terobsesi banget sama surat ini? Bisa jadi ini cuma perbuatan orang iseng. Ngga ada maksud apa-apa. Gua ngga pengen lu buang-buang waktu lu ngeladenin surat tanpa makna ini.”

“Jangan cemas, Rin. Aku tahu koq apa yang aku lakukan.” Mika tersenyum, membuat Nirin hanya bisa mengangguk.

Setelah 6 bulan lamanya, surat-menyurat di ruang kesenian sudah menjadi bagian penting dari keseharian Mika. Setiap kali ia membalas dengan meletakan suratnya di sudut ruang kesenian saat ruangan itu sepi, balasan akan datang sekitar 3 hari kemudian. Ditemukannya bisa di mana saja. Kadang di atas meja, kadang di kolong meja. Kadang bahkan di tempat sampah. Surat yang datang selalu berupa pernyataan misterius, tapi kadang menjawab rasa penasaran Mika tanpa memberitahunya sosok asli di balik surat itu. Ruang kesenian berperan sebagai tukang pos.

Sampai suatu hari, surat balasan tidak pernah muncul lagi. Mika menjadi gelisah. Tiga hari sejak surat terakhir dibalas, ia tidak menemukan selembar surat pun di ruang kesenian. Ia menunggu. Satu minggu. Dua minggu. Hingga satu bulan. Sampai Mika memutuskan mengajak Nirin untuk membongkar ruang kesenian.

“Lu jatuh cinta, Mika?” tanya Nirin saat ia bermandikan debu ditengah-tengah membongkar lemari klub kesenian. Walau sudah bersenjatakan masker, ia dan Mika tetap saja terbatuk-batuk menghadapi timbunan debu yang tercecar akibat perbuatan mereka mengacak-acak ruang kesenian.

Mika menggeleng. “Penasaran doang. Kenapa ngga ada surat lagi seperti biasa. Mungkin surat itu terselip entah dimana di ruang ini.” Mika berbohong. Nirin tahu itu.

“Kalau penulisnya memang pengen lu masih nemuin surat dari dia, ngga bakalan dia taro di tempat yang sedemikian sulit,” Nirin menggumam pelan. Berharap Mika mau memakai akal sehatnya.

Akhirnya Mika menyerah. Ia tidak pernah lagi mengacak ruang kesenian untuk melacak surat. Pun mengungkit-ungkin surat misterius itu di depan Nirin. Tapi saat perpisahan dengan para senior kelas 3, Mika memberanikan diri menanyakan kepada Robby seputar surat-surat di ruang kesenian.

“Aku sudah tahu kamu tertarik dengan sesuatu di ruangan itu.” Robby tertawa saat menjawab pertanyaan Mika. Kemudan ia hanya mengangkat bahu. Sedetik berikut, tanpa disangka-sangka, ia membungkuk dan mengacak-acak rambut Mika.

Mika langsung diam membeku setelah adegan barusan.

“I’m sorry if I made you feel annoyed, Mika. But I just want to do it. Thank you.” ucap Robby menatap Mika, suaranya lembut dan dalam. Setelah itu, sebelum Mika sempat berucap lagi, Robby sudah berlalu dari hadapannya.

Tamara tidak datang pada acara pesta perpisahan para siswa kelas 3 yang sudah lulus. Menurut rumor yang beredar, ia sedang menyiapkan pameran lukisan terbarunya.

Beberapa bulan kemudian, sekolah Mika heboh. Salah satu alumnnus sekolah mereka mendapat penghargaan yang maha tingi untuk sebuah karya lukisan pada ajang internasional bergengsi. Semua menebak dengan tepat. Prestasi itu dicetak oleh Tamara, sang mantan ketua klub kesenian yang tersohor dan misterius. Suatu prestasi yang prestisius karena sang pelukis bahkan belum genap berusia 20 tahun.

Berita itu diangkat dengan cepat ke seluruh media. Koran, tabloid, infotainment, berita pagi, siang, malam, sampai ke seluruh penjuru dunia maya.

Mika melihatnya di koran di halaman utama. Gadis jenius itu duduk dengan tenang bersandingkan dengan hasil karyanya. Berjudul Immersed. Lukisan itu berobjek 2 pohon beringin besar dan kokoh di tengah hutan dengan nuansa kelam. Akarnya kuat dan panjang menembus kedalaman tanah. Di antaranya terkubur gambar seperti surat-surat yang berkilauan. Walau kelam, terdapat banyak bintang di pelataran pohon. Mika bergidik saat melihat lukisan itu. Maha dahsyat karena mampu membuat bulu kuduknya terangkat saat melihatnya.

Walaupun misterius seperti lukisan Tamara yang lain, lukisan kali ini menimbulkan reaksi yang amat kuat pada Mika. Seperti ada ikatan yang memanggilnya.

“Lu ngga salah ngomong, Mik? Bukannya dulu lu pengen ambil psikologi?” tanya Nirin, ketika sahabatnya mengutarakan maksudnya untuk meneruskan kuliah ke jurusan sastra.

“Itu dulu, Rin. Sekarang aku berubah pikiran. Tapi aku yakin ini keputusan yang benar.”

Nirin tersenyum. “You go, girl!”

Lima tahun kemudian. Sekolah tempat Mika duduk di bangku SMA kembali heboh. Salah satu alumnus mereka kembali mencetak penghargaan bergengsi. Tapi kali ini tidak ada yang menduga peristiwa ini. Seseorang yang dulu hanya sering terlihat membersihkan ruang kesenian dalam kesehariannya, mencetak prestasi di bidang sastra. Novel pertama yang ditulisnya membuahkan penghargaan dalam sebuah sayembara yang diadakan sebuah institusi sastra bergengsi tingkat nasional. Pemberitaannya tidak heboh. Tidak sampai disiarkan di berita pagi, siang, dan malam. Walau masuk dalam media cetak, tapi tidak sampai mendapat tempat di halaman utama. Tapi Mika tetap tersenyum. Apalagi ketika sebuah surat sampai ke alamatnya. Tanpa identitas pengirim. Berisikan pendek saja, dan tetap misterius. Seperti surat-surat dahulu yang ditemukannya di ruang kesenian. Yang menginspirasinya untuk menulis novel.

Thankyou, Mika. It’s so overt, it’s covert.”

-The End-

* Cerpen ini terinspirasi surat yang ditemukan saya saat menjaga UGD RSUD Pacitan tahun 2011 lalu. Di ruang jaga dokter internship, surat berisi puisi seperti tertulis dalam post ini tergeletak begitu saja, tanpa identitas penulis. Tapi saya cukup yakin siapa penulisnya.

Dr. YAP, terimakasih atas puisi yang cantik dan misterius yang menginspirasi cerpen ini.

* Beberapa frase yang ditulis dalam bahasa inggris mungkin terkesan misterius. Hal ini mengacu pada puisi yang saya temukan. Namun, frase pada kalimat penutup terinspirasi dari line pada film Sherlock Holmes 2. Menurut terjemahan yang saya baca, overt = terbuka, tersibak; sementara covert = tertutup, rahasia. Dengan demikian, menurut saya, terjemahan It’s so overt, it’s covert menjadi: Sangat jelas, hal ini adalah rahasia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Posts

About Me

Hi, I'm Ignatia Karina

Known as Karina in daily life and Dr. Igna in my pediatric practice—where I combine my passion for writing with my journey as a pediatrician.

Favourite PICKS

  • All Posts
  • Cerita Medis
  • Favourite Stories
  • Kisah Personal
  • Lainnya
    •   Back
    • ASI/ MPASI/ Nutrisi
    • Vaksinasi
    • Infeksi
    • Emergensi
    • Lain-lain
    •   Back
    • Refleksi
    • Parenting
    • Puisi
    • Fiksi

Persepsi dari referensi yang pasti,

itulah Edukasi.

Categories

Edit Template

© 2025 Ignatia Karina. All right reserved.