Satu sore kala matahari hampir tenggelam. Langit belum lagi gelap. Masih tampak semburat matahari di langit yang memerah. Saat itu aku berdiri dekat jendela. Menatap langit yang sedang menanti matahari untuk tidur menutup hari. Aku menahan nafas. Tapi kemudian sempat kudengar diriku menyebur tawa penuh ironi dan emosi. Sejenak semuanya buram.
Satu detik, aku terpaku. Dua detik, aku sadar tak lagi dalam dunia yang kukenal. Sekarang semuanya putih di sini. Kulihat sekeliling, ada yang menungguku. Mereka kemudian berusaha mendekat. Tangan mereka terbuka. Kosong. Terangkat dan terentang menaungiku. Mereka tersenyum. Seakan menyambut anak hilang yang ditemukan. Aku berusaha menghindar, tapi tak disangka malah hatiku terlambung tinggi. Aku bisa melihatnya berubah warna. Memutih, menyatu dengan langit yang juga putih. Kubiarkan saja hatiku tetap di atas sana. Lebih ringan bagiku demikian. Aku akhirnya tersenyum. Dan melanjutkan perjalanan dalam dunia baru yang serba putih ini. Hanya ada satu jalan besar lagi lurus. Semua yang berlenggang disana memakai baju serba putih. Laki-laki dan perempuannya. Membuatku mulai bosan berada dalam dunia ini. Dan bertanya-tanya apakah mereka tidak merasa bosan hidup dalam serba keputihan ini.
Perempuan dunia putih ini aneh. Mereka berekor, ada yang panjang dan yang pendek. Semakin panjang ekor mereka, semakin mereka susah bergerak. Tapi tidak ada yang terlihat keberatan. Rasanya juga tidak ada yang pernah memotong ekor mereka. Ada yang terlalu panjang sampai membuat yang lain jatuh terjerembab karena tersandung ekornya. Tapi yang jatuh hanya tersenyum, tertawa, dan berlalu. Kemudian aku menyadari seorang perempuan berbaju putih bersama laki-laki, yang juga berbaju putih, melihatku kebingungan.
“Apa kabar?” mereka menyapaku. Aku cukup heran saat mendengar, mereka berbicara dalam bahasa yang aneh tapi bisa aku mengerti.
“Ini dimana?” aku malah balik bertanya.
“Ah, kamu orang baru ternyata, siapa namamu?” mereka balik bertanya lagi.
“Apakah ini di Surga?” aku meneruskan percakapan yang hanya berisi pertanyaan ini.
“Menurutmu?”
Aku ingin bersiap menangguk. Tetapi sesuatu terjadi. Aku lupa hatiku yang sudah kutinggal di atas sana tadi, yang sudah memutih. Tapi aku ingat, ada satu hati lagi menyergapku saat mereka bertanya. Hati yang satu ini tercabik, aku bisa merasakannya. Membuatku sakit dan canggung. Dan akhirnya aku terpaku lagi, satu detik. Dan kembali menyadari bahwa aku sudah tidak di tempat yang sama lagi, dua detik.
Kali ini aku tidak bisa melihat sekelilingku. Semua awalnya terasa gelap. Aku berusaha melihat ke atas. Langit tampak masih putih. Tetapi aku menyadari, yang diatas adalah asap, bukan langit. Kadang saat asap tersingkap, tampak langit kelam dan legam. Namun akhirnya mataku mulai terbiasa. Mulai aku lihat semburat warna bermunculan di sana-sini. Telingaku awalnya tidak mendengar suara apa pun. Tetapi kemudian bisa aku dengar bisik, sampai akhirnya menjadi hiruk pikuk di sini-sana.
“Kamu.” seseorang memanggil dari kejauhan. Ia berbicara dalam bahasa yang juga kumengerti. Walau dunia ini penuh bingar, tetapi suaranya amat jelas. Entah bagaimana, aku tahu ia memburuku. Aku sempat gemetar saat mendengarnya. Akalku tiba-tiba berbisik, bahwa aku harus melarikan diri. Walau begitu, aku berhasrat untuk mengenalnya terlebih dulu. Aku mengedarkan mataku sekeliling, mencari tahu sebaiknya menyapa atau meninggalkan yang memanggilku tadi. Aku lihat semua jalan di sini bercabang. Seperti kelok berkelok tidak ada ujungnya. Akhirnya aku balas melihatnya lagi. Ia sudah mulai berpindah, mendekat padaku.
Ia berkata, tapi tidak bertanya. Hanya menjelaskan, mungkin sedikit memerintah. Tetapi aku merasa familier. Aku tidak pernah ditanya. Hanya tahu diperintah.
“Tinggalah sampai pagi tiba.”
Oh, jadi ini adalah malam hari sekarang. Hatiku kembali ragu saat mau menjawab. Kuakui dunia di sini terlihat mempesona dengan sejuta warnanya. Seperti dongeng yang selalu aku baca diam-diam saat malam tiba, saat tidak ada seorang pun di sisiku yang mau membacanya untukku. Tetapi, ada sesuatu yang aneh menghimpit dasar hatiku. Membuat dadaku terasa agak sesak, dan hatiku nanar. Entah hati yang mana, apakah yang sudah sempat memutih tadi atau yang tercabik. Ah, dari mana datangnya dua hati ini.
Akhirnya aku menangguk tanpa merasa pasti. Toh hanya sampai pagi tiba. Sebelum aku sadar, pagi pasti sudah tiba. Dalam angguk kepalaku, kemudian muncul berjuta perempuan dan laki-laki. Membuat jalanan penuh cabang ini ramai dan sesak. Semuanya bergerak berlari dan terburu. Bila tidak berlari, mereka berdiri. Dan mereka tertawa-tawa saat melihatku bingung.
Cukup lama sampai aku sadar. Pagi tidak pernah tiba di sini. Ini bukan dunia yang mempunyai pagi dan malam. Bukan dunia yang mempunyai hitam dan putih. Ini adalah dunia yang langitnya selalu hitam. Aku tertegun lalu duduk. Tetapi segera seorang menarikku kembali berdiri. Ternyata aku tidak boleh duduk, apalagi tidur. Karena dunia tidak pernah tidur disini. Aku mulai kesepian. Mungkin sebenarnya bosan lebih baik daripada kesepian.
Seorang menghampiriku. Dia yang tadi menyuruhku tinggal. Mungkin sekarang ia akan menyuruhku pergi. Sayang, ternyata ia malah hendak memakan tubuhku. Aku menjerit dan berlari. Tetapi seperti malam yang tak pernah selesai, jalan pun seperti tidak berujung.
Dalam pelarianku, dunia ini tiba-tiba membeku. Aku menangis letih, lalu merintih. Aku hanya manusia, bukan malaikat. Bukan pula setan. Apa yang kuperbuat hingga diombang-ambing seperti ini? Sungguh aku tidak tahu ke mana kakiku harus berlabuh.
Tiba-tiba aku tersadar. Kali ini aku sudah kembali ke jendelaku, tempatku tadi menanti matahari tenggelam berganti bulan. Langit mulai temaram sekarang. Tetapi aku yakin besok pasti pagi kembali tiba. Inilah duniaku, dunia yang mungkin masih abu-abu. Aku terdiam dan sempat terisak karena kembali menjejak bumi yang sudah lama kukenal. Yakin sekarang aku masih ingin berada di sini. Perlahan aku berjalan ke dapur, sebuah pisau yangsempat kugenggam erat akhirnya kukembalikan di sana.
Cukup panjang nafas yang kuhela. Takut yang kurasakan kini berganti lega. Tapi sebuah pikiran menggelitik lagi. Setelah dunia abu-abu ini selesai, itukah tempatnya? Hanya putih atau hitam? Hitam atau putih? Tidak ada lagi abu-abu?
Jakarta, 3 Juni 2012
* Post ini sebenarnya mengenai perdebatan batin seseorang yang hendak bunuh diri karena merasa tidak pernah diterima di lingkungannya. Dipertengahan awal tahun 2012, saya mendengar cukup banyak berita bunuh diri yang membuat saya cukup kaget, terutama dari seseorang yang saya kenal. Percaya atau tidak, sebenarnya saya pun pernah memiliki suicidal thought. Dan saya hampir yakin sepertiga populasi dunia pernah mengalaminya.
Pada cerpen ini, saya mencoba untuk mengangkat tema mengenai hakikat dari kehidupan sekarang maupun kehidupan setelah kematian. Tapi saya tidak ingin menjadikannya sebagai dogma. Hanya satu hal yang saya yakin: suatu saat kehidupan saat ini pasti akan berlalu.

