Kalau memang waktunya, pasti ada jalannya

Kalau memang waktunya, pasti ada jalannya

Antara waktu dan jalan, kadang ngga bisa ditebak. Seperti udah rencana mau ngopi di kafe sore ini, eh tiba-tiba anak rewel ngga bisa ditinggal. Udah rencana mau olahraga malem, eh anak ngga tidur-tidur. Ini sekaligus curcol, karena ngerasa banyak kejadian yang ngga terwujud karena anak lagi ini anak lagi itu. Memang untuk yang punya anak, mungkin jadi lebih susah untuk mengatur waktu dan jalan. Tapi ada sebuah kisah nyata yang menjadi refleksi berharga untuk saya. Dan saya juga sudah minta izin pada orang yang bersangkutan untuk menceritakan kisah mereka. So here we goes…

Tahun 2021, saya menyelesaikan pendidikan spesialis anak di Universitas Indonesia dan memutuskan untuk ikut PGDS (program pendayagunaan dokter spesialis) di Ende. Program ini bertujuan untuk pemerataan tenaga dokter spesialis di seluruh wilayah (terutama wilayah terpencil) di Indonesia. Ende adalah sebuah kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Awalnya saya mau pilih Maumere karena ada kenalan, tapi karena tidak ada slot penempatan di sana, akhirnya ya sudah pilih Ende. Apalagi dokter spesialis anak yang bertugas sebelumnya di kota lahir Pancasila ini kebetulan adalah teman dekat. Jadi makin bulat untuk memilih bertugas selama 1 tahun di Ende.

Waktu 1 tahun dari Juni 2021 hingga Mei 2022 bisa dibilang singkat, tapi dalam waktu yang singkat itu, geleng-geleng kepala lihat rahasia umum politik kesehatan yang ada di sana. Bayangkan, Ende itu kabupaten terbesar di Pulau Flores. Luas kabupatennya sekitar 2,085 km2. Supaya lebih mudah membayangkan, bandingkan luasnya dengan kabupaten Bogor, sekitar 2,986 km2.

Kabupaten Bogor memiliki 40 kecamatan sementara Kabupaten Ende memiliki 21 kecamatan. Namun, ada kurang lebih 30 RS di Kabupaten Bogor, sementara hanya 1 RS di Kabupaten Ende (sebenarnya ada 1 lagi RS misi, tapi tidak dinaungi oleh Kemenkes). Tenaga dokter spesialis hanya berkisar 1-2 orang tiap spesialis dan tidak semua jenis spesialis ada di sana.

Di atas kertas, setiap putra-putri daerah yang sudah bersusah payah bersekolah hingga menyelesaikan pendidikan profesi sebagai dokter umum dan kemudian mau mengambil pendidikan spesialis di sana seharusnya disambut sorak-sorai dan dipermudah. Sayangnya, tidak semua dokter umum yang mau melanjutkan pendidikan dokter spesialis bisa semudah itu melenggang mendapat rekomendasi daerah. Juga tidak semudah itu diterima.

Nah, kembali lagi cerita kehidupan di Ende. Selama di Ende, banyak bertemu dengan teman-teman sejawat baru yang juga bertugas di RSUD Ende, baik yang spesialis maupun yang saat itu masih dokter umum. Kebetulan (sepertinya saya mulai percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini) saya bertemu dengan Amel dan Rey. Keduanya asli dari Ende, lahir dan besar di Ende. Hanya memang karena tidak ada fakultas kedokteran di Ende, keduanya merantau ke Pulau Jawa. Selesai pendidikan dokter umum, keduanya kembali dan mengabdi, Amel di RSUD Ende sementara Rey di Puskesmas Kecamatan Moni.

Keduanya sudah menunjukkan minat melanjutkan dokter spesialis, Rey ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam sementara Amel tertarik dengan ilmu penyakit saraf. Keduanya menikah, punya anak, dan masih tetap memiliki mimpi melanjutkan pendidikan dokter spesialis. Persiapan dimulai, jatuh bangun pun dirasakan. Tapi seperti judul tulisan ini, kalau memang waktunya, pasti ada jalannya.

Mereka mendapat penolakan rekomendasi daerah dari kepala dinas kesehatan setempat. Rey mendaftar dan mendapat beasiswa LPDP, tetapi belum juga berhasil diterima walau sudah mendaftar di 3 universitas selama 1 tahun. Amel bisa dibilang bingung memulai darimana, apalagi tidak mudah untuk mempersiapkan diri sekolah spesialis sambil mengasuh anaknya yang masih 1 setengah tahun dan masih bertugas jaga IGD di RSUD Ende, belum lagi bila ada kebutuhan menggantikan visit pasien.

Momen ekplor keindahan Pantai Pangabatang di Pulau Flores bersama Amel dan Rey

September tahun 2024, kami bertemu di Jakarta. Saya membawa mereka bertamu malam hari bertemu dengan pasutri alumni program pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam, supaya ada masukan bagaimana menyusun strategi untuk diterima. Kesimpulan malam itu, Rey dianggap sudah memiliki cukup kualifikasi diatas kertas sehingga diminta mematangkan persiapan untuk wawancara. Namun, kualifikasi yang memadai diatas kertas sendiri bukan jaminan akan diterima. Malam itu tidak banyak pembicaraan strategi untuk Amel. Saya merasa ikut gamang dengan ketidakpastian untuk mereka berdua. Namun, malam itu semangat keduanya melekat dalam memori saya. Mereka banyak bercerita tentang kasus pasien, kondisi pelayanan kesehatan di Ende, yang membuat mereka kemudian berusaha melanjutkan pendidikan dokter spesialis.

Agustus tahun 2025, kami bertemu kembali di Jakarta. Keduanya saya ajak bertemu malam hari di tempat saya. Siapa yang sangka, tidak sampai 1 tahun, jalan untuk mereka berdua akhirnya terbuka lebar. Rey sudah diterima di Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia (university based), sedangkan Amel diterima di Program Spesialis Neurologi RS Pusat Otak Nasional Jakarta (hospital based).

Rey bercerita kali keempat dia mencoba kembali ujian, rasanya semua terasa klik. Dia menemukan beberapa kompetitornya justru merupakan teman belajar bersama terbaik. Dengan berbagi pengalaman dan ilmu kepada para kandidat lain, justru ia mendapat kemudahan dan nilai tambah. Kali ini pertanyaan ujian wawancara terasa lebih mengalir, dan rasanya tidak lama ia berada di dalam ruang ujian. Saya yang bertemu langsung dengannya pada masa ujian bisa melihat sendiri suasana hatinya. Setelah 3x belum berhasil, alih-alih insecure, ia justru menjadi lebih tenang.

Amel bercerita bagaimana yang terjadi saat ini tidak seperti bayangannya semula. Awalnya ia mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan di sebuah universitas berlokasi di Pulau Dewata. Namun, tiba-tiba saja ia mendapatkan info penerimaan Program Spesialis Neurologi di RS PON. Sesudah bulat untuk mendaftar, ia khawatir dengan persiapannya. Gayung bersambut, tiba-tiba lagi ada temannya yang memberitahukan info bimbingan belajar untuk persiapan ujian program spesialis neurologi tersebut. Satu per satu, Amel mengikuti pintu demi pintu yang mulai terbuka untuknya. Walaupun ada kendala pada salah satu ujian, justru itu yang membuat Amel berusaha lebih maksimal lagi.

Semua terasa klik. Pintu demi pintu terbuka. Sudah waktunya, sudah jalannya.

Sebuah pengingat untuk seluruh pemuda Indonesia terutama diri sendiri, setiap kegagalan adalah 1 saat dan 1 langkah lebih dekat menuju keberhasilan. Yang terpenting, tetap memiliki mimpi dan berusaha meraihnya. Untuk masa depan dan untuk sesama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Posts

About Me

Hi, I'm Ignatia Karina

Known as Karina in daily life and Dr. Igna in my pediatric practice—where I combine my passion for writing with my journey as a pediatrician.

Favourite PICKS

  • All Posts
  • Cerita Medis
  • Favourite Stories
  • Kisah Personal
  • Lainnya
    •   Back
    • ASI/ MPASI/ Nutrisi
    • Vaksinasi
    • Infeksi
    • Emergensi
    • Lain-lain
    •   Back
    • Refleksi
    • Parenting
    • Puisi
    • Fiksi

Persepsi dari referensi yang pasti,

itulah Edukasi.

Categories

Edit Template

© 2025 Ignatia Karina. All right reserved.